Listrik Tenaga Belimbing Wuluh

PULUHAN gelas plastik bekas air mineral ditata rapi berderet-deret di atas rak bambu. Di atasnya terjuntai kabel yang pada ujungnya terdapat rangkaian 20 titik lampu LED.

Sunarto warga Desa/Kec. Nguntoronadi, Magetan itu menghubung-hubungkan kabel yang tersambung dari lempeng tembaga dan seng di tiap-tiap gelas plastik ke kaki lampu LED. Dan, byar, lampu berwarna putih itu menyala serentak.

Dari mana asal energi listriknya? Ternyata dari tanah yang telah direndam dengan jus belimbing wuluh. Deretan gelas plastik bekas itu diisi tanah bercampur jus belimbing wuluh hingga menyerupai lumpur. Dua lempengan kecil berbahan tembaga dan seng ditancapkan di tanah berlumpur tanpa bersentuhan. Begitulah, setiap gelas pasti tertancap dua lempeng (tembaga dan seng).

Kabel yang terhubung di lempeng tembaga (yang berarus plus) di gelas paling ujung kiri dipertemukan di papan deret lampu LED dengan kabel yang tersambung pada lempeng seng (berarus minus) yang tertancap di gelas paling ujung kanan.

Sudah lama Sunarto punya kegelisahan.  ’’Sering terjadi pemadaman listrik. Di sisi lain, tarif listrik akan dinaikkan. Saya mulai berpikir bagaimana dengan teknologi tepat guna, orang bisa mencukupi kebutuhan listriknya,” ungkap Sunarto menerangkan ide dasarnya.

Kebetulan di depan rumahnya, RT 10/RW 02 Desa Nguntoronadi terdapat pohon belimbung wuluh yang buahnya banyak sekali. Buah belimbing banyak berceceran, lantaran hanya sedikit saja yang dimanfaatkan untuk keperluan memasak sayur asem atau bothok.

Lulusan pasca sarjana (MT) ITS Surabaya itu paham betul bahwa belimbing wuluh mengandung zat asam. ’’Sifat zat asam kalau diberi elektroda yang berasal dari seng dan tembaga, maka akan menghasilkan energi listrik,” jelasnya.

Selain untuk menyalakan lampu LED, energi listrik yang dihasilkan belimbing wuluh tersebut juga telah diujicobakan untuk menggerakkan jarum jam dinding. Selain itu juga menghidupkan radio. Dan berhasil.

Berapa lama kemampuan jus belimbing itu mengalirkan energi listrik ke lampu LED? ’’Kalau dinyalakan terus mampu sampai 15 hari. Nah, kalau tanah di dalam gelas sudah mulai mengering, disiram lagi jus belimbing wuluh. Hanya begitu,” terang Sunarto.

Menurut dia, tanah yang sudah berada di dalam gelas tak perlu diganti. Tinggal menambah air saja kalau sudah mulai mengering. Jenis tanah yang paling bagus adalah tanah liat. Karena jenis tanah ini tak berpasir dan juga tak berkerikil.

Bagi daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik, teknologi tepat guna temuan Sunarto ini mungkin bisa coba diterapkan. Atau bisa juga di daerah yang sudah terjangkau jaringan listrik, tapi ingin berhemat.

Energi listrik temuan Sunarto itu memang belum bisa dimaksimalkan cahaya lampu. Sampai saat ini, Sunarto sendiri belum pernah mencobakan energi listrik belimbing wuluh itu untuk menyalakan lampu dop atau neon yang membutuhkan energi listrik lebih besar.

Dia sudah melakukan percobaan sejak setahun lalu. Pernah juga karyanya itu dilombakan dalam Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Magetan, namun tak mampu meraih juara. Meski demikian, penemuan Sunarto itu layak mendapatkan apresiasi.

Mimpi Sunarto saat ini adalah mengembangkan cara penyimpanan yang lebih ringkas sehingga pembangkit tenaga blimbing wuluh ini mudah dibawa ke mana-mana. (Surabaya Post)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: